TASIKMALAYA – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Tasikmalaya menggelar agenda diskusi publik bertajuk "Reformasi dan Citra Institusi Kepolisian". Acara yang berlangsung di Aula Kampus Institut Nahdlatul Ulama (INU) Kota Tasikmalaya pada Rabu (25/02) ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk membedah rapuhnya citra kepolisian di mata masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa reformasi di tubuh Polri bukan sekadar wacana teknis, melainkan tuntutan mendesak yang mencakup tiga dimensi fundamental yang selama ini dinilai stagnan.
Transformasi Tiga Dimensi Reformasi
PC PMII Kota Tasikmalaya menggarisbawahi tiga aspek utama yang harus menjadi prioritas perbaikan:
- Dimensi Struktural: Penataan ulang kedudukan institusi agar benar-benar mandiri di bawah Presiden dan optimal dalam menjalankan fungsi organisasi sebagai pelindung publik.
- Dimensi Instrumental: Pembaruan menyeluruh terhadap doktrin, regulasi, dan petunjuk teknis agar sepenuhnya sejalan dengan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM).
- Dimensi Kultural: Aspek ini ditegaskan sebagai bagian tersulit sekaligus terpenting, yaitu mengubah pola pikir (mindset) anggota dari mentalitas "penguasa" menjadi "pelayan" masyarakat.
Kritik Terhadap Kultur Militerisme dan Represifitas
Diskusi publik ini mengungkap kegelisahan mendalam terkait masih melekatnya kultur militerisme di internal kepolisian. Hal ini dinilai menjadi akar penyebab munculnya tindakan intimidasi dan kekerasan yang kerap mewarnai interaksi polisi dengan warga.
"Citra kepolisian harus dibangun dari perbaikan internal terlebih dahulu. Institusi tidak boleh hanya fokus pada kesalahan masyarakat sementara pelanggaran di dalam tubuh sendiri justru dinormalisasi dengan dalih perilaku 'oknum' saja," ungkap perwakilan PMII dalam pernyataan sikapnya.
Lebih lanjut, ditegaskan bahwa kejadian-kejadian kekerasan yang berulang menunjukkan adanya persoalan sistemik yang harus segera diputus. Polisi harus dikembalikan sepenuhnya pada wewenang aslinya sebagai pengayom, bukan alat refresifitas.
Pembenahan dari Hulu melalui Sistem Perekrutan
Sebagai solusi jangka panjang, PC PMII Kota Tasikmalaya mendesak adanya perombakan total pada sistem perekrutan anggota kepolisian. Strategi ini dianggap krusial untuk memastikan bibit-bibit baru Polri memiliki standar humanisme yang tinggi dan tidak membawa mentalitas militeristik yang kaku dalam menjalankan tugas sipil.
"Reformasi kepolisian harus dilakukan mulai dari sekarang. Pemerintah tidak boleh abai dan harus bersikap lebih tegas terhadap instansi kepolisian agar kepercayaan publik tidak kian tergerus," tutup pernyataan resmi dalam kegiatan tersebut.
Acara yang diakhiri dengan buka bersama ini mempertegas komitmen mahasiswa untuk terus mengawal jalannya reformasi institusi penegak hukum demi terwujudnya pelayanan publik yang lebih manusiawi dan berintegritas.